Cut Out [I]
Naskah ini terdiri atas lima fragmen, disusun sebagai fiksi sejarah melalui beragam arsip. Dalam naskah tidak ada cerita, yang ada adalah potongan-potongan peristiwa dalam setiap periode sejarah Indonesia, sejak 1830.
Dua sosok utama ialah Raden Saleh dan S. Sudjojono.
Naskah meminjam pelbagai kutipan dari tokoh-tokoh penting, dari Johannes Van Den Bosch, Soekarno, Sutan Takdir Alisjahbana, sampai Y.B. Mangunwijaya. Naskah juga menggunakan instalasi fotografi, performa rekam suara, performa rekam gambar-gerak, video footage, serta laku interaktif dengan penonton. Selain itu, ada bagian naskah yang menggunakan alih-bahasa secara sirkulatif dari Bahasa Jepang ke Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia.
Naskah ditutup dengan gambaran situasi di KRL-Commuterline Jabodetabek, gerbong “Kereta Khusus Wanita”, pada 2017, ketika proyek MRT sedang dibangun, serta meja makan yang kosong dan televisi yang terus menyala.
Cut Out [II]
Naskah ini terdiri atas enam fragmen, disusun dalam bentuk fiksi sejarah melalui beragam arsip yang sebelumnya telah dipergunakan dalam Cut Out [I], ditambah beberapa naskah drama, dan buku syair.
Naskah berpusat pada tokoh lelaki, seorang aktor panggung yang mengalami fantasi sejarah. Kenyataan di sekitarnya masuk ke dalam kenyataan imajiner yang bersumber dari catatan-catatan sejarah, juga dari naskah-naskah drama yang ditulis orang lain.
Latar tempat berpindah-pindah, dari Bandung, Surabaya, Jakarta, Jepang, Prancis, sampai Jerman. Begitu juga dengan latar waktu. Tokoh lelaki berganti-ganti karakter, serta bertemu, dan terlibat urusan, dengan karakter-karakter lain dari naskah-naskah drama yang telah ditulis orang lain. Ada beberapa dialog singkat yang menggunakan Bahasa Belanda dan Bahasa Jerman.
Naskah ditutup dengan gambaran situasi di KRL-Commuterline Jabodetabek, gerbong “Kereta Khusus Wanita”, pada 2019, ketika proyek MRT sudah selesai dibangun, serta meja makan yang kosong dan televisi yang terus menyala